Penampakan Yesus di Kramat V

Posted: 20 Oktober 2011 in Agama

Penampakan Yesus Kristus Di Kramat V No. 24, yang juga sudah disiarkan oleh Indosiar.

Dengan ini saya menyampaikan sesuatu yang luar biasa, di luar dari Yang saya bayangkan. Mungkin beberapa di antara kita sudah tahu berita Penampakan Yesus Kristus Di Kramat V No. 24, yang juga sudah disiarkan oleh Indosiar. Lokasinya tepat di depan Gereja GPIB Gideon, ada rumah seorang Haji, istrinya orang Kristen. Menurut orang-orang yang tinggal di situ, tadinya Pak Haji ini sudah masuk Kristen, tetapi berselang waktu kemudian dia pindah ke Moslem lagi. Ketika dia sembahyang di rumahnya dengan posisi menghadap tembok yang dicat putih, tiba-tiba dia merasakan ada seseorang yang mau bicara kepadanya yang muncul dari tembok tersebut.

Awalnya dia takut dan gelisah sehingga dia menceritakan ke istrinya. Mereka pikir itu hanya ilusi atau rembesan hujan, sampai-sampai dia mencat dinding itu 4 kali, tetapi yang herannya, Penampakan itu semakin jelas. (Penampakan ini tidak terus ada, tetapi sering muncul tiba-tiba di dinding itu). Penampakan ini kalo tidak salah mulai dari tanggal 26 Desember 2000.

Karena banyaknya orang berduyun-duyun datang melihat, akhirnya polisi menjaga rumah itu, dan pengunjung tidak diperbolehkan masuk lagi, dan dikasih pengumuman bahwa Penampakan tersebut sudah tidak ada. Tetapi yang herannya, Penampakan itu justru berpindah ke dinding luar dari kamar tempat Pak Haji pertama kali melihatnya. Ini terlihat pada malam Minggu (tanggal 13 Januari 2001) oleh pengunjung sekitar jam 12 malam sampai dengan jam 1 pagi dini hari. Pengunjung spontanitas bernyanyi memuji-muji Tuhan dan berdoa menangis bersukacita. Banyak juga Hamba Tuhan yang hadir di sana. Menjelang jam 1 pagi dini hari, Penampakan itu semakin hilang, tetapi terangkat ke angkasa dengan cahaya / sinar yang sangat terang dan menghilang.

Berita ini juga sampai kepada saya, dan saya penasaran juga mau melihat, membuktikan benar tidaknya berita tersebut, soalnya tidak jauh dari tempat saya. Akhirnya kami pergi ke lokasi kemarin, hari Minggu, tanggal 14 Januari 2001, sekitar jam 17.30 sore. Benar juga, ternyata di sana masih banyak orang yang pengen lihat. Tapi Penampakan itu pada saat itu tidak ada.

Dan tembok luar, di mana Tuhan menampakkan diri pada malam Minggu tanggal 13-nya, sudah dicat warna Biru Laut, dan catnya pun masih bau dan masih agak lengket.

Kami hanya dapat melihat foto-fotonya, rupanya ada juga yang foto untuk membuktikan, dan di foto itu terlihat wajahnya Yesus Kristus, dengan rambutnya sebahu, itulah yang terlihat jelas, juga gambar ketika sinar / cahaya yang terangkat ke atas. Saya pengen gambar itu sebagai bukti, tetapi harus dipesan dulu.

Kira-kira jam 18.30, menjelang malam, saya dan teman-teman mau pulang, posisi kami saat itu ada di seberang jalan, di depan dinding. Ketika saya berbalik mau pulang, TIBA-TIBA MATA SAYA TERTUJU KE DINDING YANG SUDAH DICAT BIRU ITU, DAN APA YANG SAYA LIHAT, SAYA MELIHAT PENAMPAKAN YESUS DI DINDING ITU! YANG SANGAT JELAS PERTAMA ADALAH KEPALANYA, KEMUDIAN BAHU, KEMUDIAN KEDUA TANGANNYA. POSISINYA, KEPALANYA AGAK MENUNDUK (KURANG LEBIH 45 %), KEDUA TANGANNYA TERANGKAT (POSISI MEMBERKATI), BADANNYA TIDAK TERLIHAT, TETAPI PUNGGUNG / BAHU BELAKANG TERLIHAT, PERGELANGAN TANGAN DAN PUNGGUNG MEMAKAI JUBAH, DAN POSISINYA SEMUA AGAK MIRING (KURANG LEBIH 30 %).

MELIHAT ITU, SPONTAN SAYA BERTERIAK-TERIAK, SETENGAH HISTERIS, “ITU DIA… ITU DIA… ITU TUHAN…” SAYA TIDAK TAHU APA YANG SAYA RASAKAN PADA SAAT ITU. SAYA SAMPAI GEMETARAN DAN MENANGIS. SAYA HANYA DAPAT MENGUCAP SYUKUR KEPADANYA. TERNYATA TEMAN SAYA, YANG BERDIRI DI SEBELAH SAYA, JUGA MELIHAT. DIA JUGA HISTERIS, SETENGAH MENANGIS, “OH TUHAN…OH TUHAN YESUS…”

Shalom alaikhim Beshem ha Mashiah

Saya anak ketiga dari enam bersaudara, empat saudara saya perempuan Dan saya termasuk anak laki-laki paling besar. Saya dilahirkan dalam Keluarga Muslim yang taat dan fanatik karena ayah saya adalah seorang Kiyai dan juga anggota ABRI yang oleh komandannya ditugaskan untuk membina mental dan rohani anggota ABRI.

Dilingkungan keluarga, ayah saya sangat keras dalam mendidik anak-anaknya terutama dalam hal agama. Dalam pergaulan ayah saya juga memberikan pengajaran yang sangat keras, kami dilarang bergaul atau Berteman dengan orang-orang Kristen. Tahun 1992 saya menyelesaikan studi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Saya dianjurkan ayah saya agar melanjutkan Pendidikan agama ke salah satu pesantren di Jombang, Jawa Timur, supaya saya lebih memahami tentang Al-quran, akan tetapi tinggal dan belajar di dalam pesantren menurut saya tidak efectif karena pengajarannya hanya

membaca dan menulis huruf arab saja tidak dengan arti bahasa indonesianya, sehingga saya hanya bertahan sampai empat bulan, setelah itu saya menganggur.

Pada bulan juli 1994 saya mencoba masuk Lembaga ilmu Pengetahuan Islam Arab LIPIA), setelah mengikuti ujian masuk saya dapat diterima dan ternyata saya salah satu yang mendapat beasiswa untuk belajar di King Abdul Aziz Universitas Jeddah, Saudi Arabia selama tiga tahun. Mendengar kabar tersebut bukan hanya saya yang gembira, orang tua saya lebih gembira dari saya, dengan harapan saya bisa menjadi penerus ayah sebagai seorang “Kiyai”.

Bulan November 1994 saya berangkat menuju Saudi Arabia. Di Saudi Arabia saya tinggal di sebuah apartemen di Fasyalia Street I Jeddah, kurang lebih 100 km menuju kota Mekkah. Pada tahun pertama saya tinggal di Saudi Arabia, saya rajin beribadah Umroh dan Haji ke Masjidil Haram Mekkah. Saya sempat terkejut setelah mengetahui bagaimana orang Islam di Saudi Arabia memperingati hari-hari besar Islam karena ada beberapa peringatan hari besar agama Islam di Saudi Arabia yang berbeda dengan di Indonesia, contohnya di Saudi Arabia tidak ada peringatan Maulid Nabi Muhammad dan Isra Mi+raj Nabi Muhammad juga tidak ada adanya Idhul Fitri dan banyak lagi perbedaan agama Islam di negara Arab dengan Indonesia.

“Isa Almasih dalam Al-quran”

Satu setengah tahun sudah saya belajar di Saudi Arabia, saya mulai mengerti arti terkandung dalam kitab suci yang saya imani dahulu yaitu Al-quran. Didalam Quran sendiri banyak sekali kesaksian tentang Injil Isa Almasih, antara lain Surah 46 Al-Ahqaaf ayat 30: QAALUU YAA QAUMANA INNA SAMI+NA KITABAN UNZILA MIMBA+DI YADAIHI YAHDI ILAL HAQQI WA ILA THARIQIM MUSTAQIM, Artinya: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar Kitab Al-Qur+an yang diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan Kitab Injil yang memberi petunjuk kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus”. Surah 4 An-Nisaa ayat 59: WA INI MIN AHLIL KITABI ILLA LA YU+MINAMNA BIHIIQOBLA MAUTIHI WAYAUMIL QIYAMATI YAKUNU ALAIHIM SYAHIDAA. Artinyaan tidak seorangpun dari ahli kitab akan beriman kepada Isa dan ada hari kiamat Dia menjadi saksi terhadap mereka”.

Surat 43 Az-Zukhuri ayat 61: WA INAHUU LA+ILMUL LIS SAA +TI FA LAA AMTARUNA BIHA WA TABI+UNI HAZDAA SHIRAATUM MUSTAQIM. Artinya: “Dan sesungguhnya Dia adalah suatu tanda bagi kiamat maka janganlah kamu ragu-ragu entang kiamat itu, dan ikutlah Aku, inilah jalan yang lurus”. Ayat yang diatas menyatakan bahwa jalan yang lurus ada pada Isa Almasih yang memberikan pengetahuan tentang hari kiamat dan tidak boleh diragukan.

Oleh karena itu kita harus bertaqwa kepada Allah dan taat kepada Isa Almasih sebab inilah jalan yang lurus. Disamping Surah 43 Az-zukhuruf tersebut, jalan yang lurus ada di dalam surat 46 Al-Ahqaaf ayat 30 yang menyatakan bahwa Kitab Taurat dan Injil memberikan petunjuk kepada kebenaran kepada jalan yang lurus. Surah Al-Maa-Idah ayat 68 juga menyatakan bahwa Alkitab (Taurat dan Injil) adalah merupakan Kitab yang benar bagi orang yang beragama menurut kehendak Allah.

Surah Al-Maa-Idah ayat 68: QUL YAA AHLAL KITABI LASTUM+ ALAA SYAI iNHATTA TUQIMUT TAURATA WAL INJILA WA MAA UNZILA ILAIKUM MIR RABBIKUM THUQYANAW WAKUKUFRAN FALLA TA+SA+ALAL QAUMIL KAAFIRIN. Artinya: “Katakanlah, hai ahli kitab, engkau tidak beragama yang sebenarnya, kecuali ngkau turuti Taurat dan Injil dan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, bagi kebanyakan mereka sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran.

“Saya menerima Isa Almasih sebagai Tuhan dan Juruselamat” Pada suatu hari di bulan Agustus 1996 ketika saya sedang membaca Alquran di kamar apartemen tiba-tiba saya melihat seorang laki-laki berjenggot dan berjubah putih mendekati saya. Saya takut sekali tapi bukan karena kehadiran orang tersebut yang begitu tiba-tiba tapi karena wajahnya yang sangat wibawa sekali. Apakah saya ini sedang bermimpi? Ah, tidak .. saya tidak bermimpi ataupun mabuk. Sepertinya orang tersebut tahu kalau saya sedang ketakutan, DIApun langsung berbicara : “Jangan takut Aku datang untuk menyelamatkanmu”. Setelah DIA berkata begitu, saya langsung tidak sadarkan diri waktu itu kira-kira pukul 9 malam waktu Jeddah. Segala sesuatu hening dan tenang.

Sayapun merenungkan siapa yang datang tadi? Kalau dia manusia, darimana masuknya sebab semua pintu terkunci. Dan apa maksudnya dengan menyelamatkan?. Koq dia lancar sekali berbahasa Indonesia, sedangkan wajahnya wajah Arab-Palestina. Darimana Dia tahu kalu saya orang Indonesia, sedangkan saya saat itu saya tidak sedang berada di Indonesia tapi di Jeddah, ya paling tidak pakai bahasa Arablah, karena disana orang Indonesia juga kalau bertemu dengan bangsanya sendiri pakai bahasa Arab. Tiba-tiba saya merasakan ada sesuatu yang masuk kedalam diri saya. Sekarang saya baru tahu kalau yang masuk tersebut adalah Roh Kudus dan Roh Kudus itulah yang membuat hati saya dapat mengambil kesimpulan bahwa yang datang tadi adalah Isa Almasih (Yesus Kristus). Sayapun langsung tersungkur dan menangis sambil memohon ampun kepada Allah atas semua dosa-dosa saya selama ini, yang ternyata saya selama ini telah mengikuti jalan yang tidak benar. Spontan saya berkata “Bagaimana saya harus menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat?”, bicara saya saat itu memang perlahan saya juga tidak mengerti kenapa saya bicara seperti itu, dan lagi saya tidak tahu Juruselamat itu apa?

Ini hal-hal aneh yang terjadi saat itu. Pagi itu juga saya berdoa dalam bahasa Indonesia dengan lancar sekali, doa saya waktu itu adalah sebagai berikut: “Ya Allah saya percaya melalui FirmanMu bahwa saya adalah manusia berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah serta harus binasa, tetapi saya juga percaya melalui FirmanMu Yesus Kristus telah mati untuk semua orang yang berdosa dan Darah-Nya telah dicurahkan untuk menghapus dosa-dosa kami. Sekarang saya menerima Engkau Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadiku. Penuhi saya dengan Roh KudusMu Tuhan. Terima kasih Tuhan Yesus Kristus. Amin.”

Setelah berdoa seperti itu, doa tersebut langsung saya catat ke dalam sebuah buku harian. Setelah itu saya merenung, sambil bertanya-tanya dalam hati, kenapa saya begitu mudah berdoa dalam bahasa Indonesia? Dan mengapa doa tersebut seperti doa orang Kristen, sebab ada kata Yesus? Lantas saya berfikir lagi, yang berdoa tadi, saya atau siapa? Aneh tiba-tiba saya penuh dengan sukacita.

Sejak tahun 1996 saya secara pribadi menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya. Ditahun 1997 saya pulang ke Jakarta dengan sambutan meriah dari keluarga karena mereka tahu bahwa diri saya telah menjadi seorang haji yang patut dibanggakan. Keluarga saya belum tahu kalau saya sudah bertemu dengan Tuhan Yesus dan menjadi pengikutNya. Inilah rahasia yang terus saya rahasiakan, tidak seperti yang lain saya tidak pernah memakai gelar Haji di depan nama saya, dan tindakan ini membuat orang tua saya bertanya-tanya akan apa yang saya perbuat.

Tidak lama setelah saya sampai di Jakarta, saya mendapat tawaran bekerja di salah satu Bank swasta di Jakarta. Tetapi baru kerja kurang lebih sembilan bulan, saya terkena PHK karena Bank tersebut dilikwidasi/ditutup oleh pemerintah, tidak lama setelah saya terkena PHK ayah saya memasuki masa pensiun, sehingga harus pulang ke Jomabng, Jawa Timur, karena rumah yang ditempati di Jakarta adalah rumah dinas. Dan saya memilih untuk tinggal dan kost di Jakarta, tepatnya di Jalan Kramat Raya Jakarta pusat. Selama hidup menjadi anak kost yang masih di biayai keluarga karena saya belum bekerja, hal seperti ini menghidupkan kembali kerinduan saya untuk mempelajari Alkitab, seperti janji hati ketika baru menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat saya. Setelah membeli sebuah Alkitab dan saya belajar sama Tuhan, mulailah saya ikut kebaktian, yang pertama sekali saya ikut Kebaktian Minggu disalah satu gedung gereja di Jakarta Pusat. Selanjutnya keluar masuk gereja dari yang Karismatik, Pantekosta, Protestan sampai Katolik sehingga saya mengenal beberapa Hamba Tuhan.

Tanggal 8 April 1999, saya bertemu seorang Hamba Tuhan dari satu gereja di Jakarta yang bersedia membaptis saya pada sebuah kolam renang yang berada di salah satu Hotel di Jakarta Timur.

“Tuhan bekerja luar biasa di balik sobekan celurit” Pada 28 April 1999 saya datang berkunjung ke rumah paman di daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur untuk mengakui bahwa saya telah menjadi Pengikut Kristus. Sampai di sanapun saya ditanya oleh Paman, “Bagaimana kabar kamu? Sudah lama tidak main ke sini?” “Puji Tuhan”, jawab saya. Mendengar jawaban seperti itu, wajah Paman langsung berubah tidak ada senyum lagi. Saya ulangi lagi, “Puji Tuhan! Sekarang ini saya menjadi pengikut Kristus”. Paman saya tanya lagi, Apa itu pengikut Kristus? Dengan suara yang sangat kasar sekali. Saya kembali menegaskan “Sekarang saya sudah menjadi seorang Kristen”. Tanpa ada komentar lagi, melayanglah pukulan dari Paman yang bertubuh besar ke arah saya yang berbadan kecil. Saya terjatuh, akibat terkena pukulan, lalu kesempatan itu digunakan oleh paman saya untuk mengambil sebuah celurit yang terpajang di tembok. Lalu dari arah belakang Paman mengalungi lehar saya dengan celurit dan merobek leher saya sambil berkata, “Kamu sudah murtat, Kamu sudah menjadi kafir, orang kafir kalau dipotong lehernya diminum darahnya halal”. Mendengar itu saya merasa bahwa saya tidak akan hidup lagi. Tapi tiba-tiba dengan pertolongan dan kekuatan dari Tuhan , tangan saya cepat bergerak menangkap celurit yang sangat tajam itu untuk saya tarik ke depan dengan kedua tangan saya ini. Begitu terlepas dari celurit tajam itu, lalu saya lari keluar dan dikejar oleh Paman. Puji nama Tuhan! Tuhan Yesus menghalanginya sehingga Paman saya tidak mengejarnya lagi. Saya memanggil taksi, dan sopirnya bertanya kepada saya “Mau dibawa kemana?” saya bilang sama sopir taksi “Tolong bawa saya kerumah sakit mana saja.”

Sementara darah terus mengalir membasahi pakaian saya, sambil memegangi leher yang terluka dengan keadaan tangan saya yang juga hampir putus karena menahan celurit yang tajam tadi. Selama ditaksi saya berseru “Tuhan, kalau memang Engkau mau mengambil saya ambillah Tuhan, jangan lama-lama”.

Taksi diarahkan kerumah sakit Harapan Bunda di Pasar Rebo. Saya dibawa masuk dengan alat dorongan, tapi dokter masih menanyai saya dengan beberapa pertanyaan sebab dikiranya saya seorang penjahat yang jadi korban pengadilan massa. Tapi Puji Tuhan, seorang perawat digerakkan oleh Tuhan untuk melayani saya, dia membersihkan luka di leher dan di tangan saya. Dan tak lama kemudian datang juga dokter tersebut dengan menjahit luka-luka saya.

Setelah dijahit dan saya mampu untuk duduk, mulailah dokter itu kembali mengajak saya berbincang-bincang, kenapa dan apa yang terjadi dengan saya. Saya menjelaskan bahwa Paman saya telah menggorok leher saya ini karena saya telah menjadi seorang Kristen. Tak saya sangka-sangka dokter itu juga marah dan mengatakan saya sudah menjadi Kafir. Lalu saya jawab semua perkataan dokter tersebut dengan mempersilahkan membaca beberapa ayat yang ada di dalam

Alquran seperti surah 46 Al-Ahqaaf ayat 30, Surat Az-Zukruf ayat 61 dan Surah Al-Maa-Idah ayat 68, juga saya mengatakan bahwa saya pernah belajar di Saudi Arabia selama tiga tahun bahkan saya bertemu dengan Tuhan Yesus di Saudi Arabia bukan di Indonesia. Akhirnya dokter tersebut terdiam merenung. Untuk mengalihkan pembicaraan, sayapun bertanya “Dokter berapa biaya yang harus saya bayar?” Tetapi apa yang terjadi? Ternyata Tuhan bekerja luar biasa sekali, sebab dokter tersebut mengatakan tidak usah dibayar bahkan saya dibolehkan ke rumah.

Saya mengucap syukur pada Tuhan… Keesokkan harinya saya menelepon orang tua di Jombang dan menceritakan apa yang terjadi dengan diri saya, orang tua saya merasa kaget sekali dan marah besar, saya dikatakan orang kafir, orang murtat bahkan lebih dari itu mereka melarang saya mengakui sebagai orangtuanya lagi dan juga termasuk semua saudara-saudara saya. Saya juga dilarang menginjak rumah orang tua saya. Belum sempat saya bicara lagi, telepon ditutup. Sejak saat itu hubungan saya dengan orang tua serta saudara-saudara putus. Akibatnya, saya tidak mendapat bantuan keuangan dan akhirnya saya tidak sanggup meneruskan pembayaran uang kost.

“Gelandangan awal pelayanan saya”

Dengan bermodalkan sebuah Alkitab dan beberapa lembar pakaian mulailah saya tidur di Mesjid-mesjid, di stasiun-stasiun kereta api dan tempat-tempat lainnya. Pertama sekali saya tidur di Masjid Baitul Falah jalan kramat raya nomor 121 dan Masjid Istiqlal lalu pindah ke Stasiun Kereta Api Senen, Juanda dan Taman Lapangan Banteng. Kehidupan saya benar-benar menjadi gembel dan gelandangan seringkali saya tidak makan berhari-hari dan ternyata Tuhan tidak membiarkan saya. Suatu hari saya mendapat kabar dari seorang teman gelandangan juga bahwa ada satu tempat dimana disana disediakan makanan gratis dari Tuhan untuk orang-orang jalanan yaitu dirumah salah seorang dokter juga sebagai Hamba Tuhan yaitu dokter Suradi Ben Abraham di alan proklamasi nomor 47 Jakarta Pusat. ampir setiap hari saya datang untuk makan dengan sepuasnya di sana. Disamping itu iman saya juga terus bertumbuh, diantara para gembel dan gelandangan saya membentuk satu kelompok doa bersama mengambil lokasi di aman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat setiap hari sabtu pukul 11.00 sampai 13.00 WIB. Waktu itu pertama kali dilayani oleh Team dari Doulos, tetapi lama-kelamaan kamipun dapat melakukan pelayan sendiri terhadap kelompok doa kami sendiri.

Pada suatu hari seorang Hamba Tuhan melihat kelompok doa yang saya pimpin dan menawarkan kepada saya untuk melayani penginjilan ke suatu desa di Sukabumi Jawa Barat. Sejak saat itulah hingga sekarang Tuhan pakai saya untuk memberitakan Injil di beberapa tempat. Demikianlah kesaksian saya, Tuhan memberkati. “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” (Kisah Para Rasul 16:31)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s